NABIRE – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, tetapi juga mulai memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire, Marsel Asyerem, mengatakan pelaksanaan program MBG di Nabire telah membuka lapangan pekerjaan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
Menurut Marsel, hampir 700 masyarakat Nabire kini terserap sebagai tenaga kerja pada sejumlah SPPG yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Program MBG ini membawa dampak positif bagi masyarakat Nabire. Hampir 700 orang terserap bekerja di SPPG atau dapur MBG,” kata Marsel saat memberikan keterangan kepada media.
Ia menjelaskan, para pekerja yang terserap dalam program tersebut memperoleh penghasilan yang menurutnya berada pada kisaran pendapatan setara ASN golongan II C hingga III A, yakni sekitar Rp2,8 juta hingga Rp4 juta per bulan.
Selain membuka lapangan pekerjaan, perputaran anggaran program MBG juga dinilai memberikan dampak terhadap pelaku usaha lokal. Marsel menyebutkan, selama sekitar sembilan bulan pelaksanaan program, anggaran yang berputar melalui 14 SPPG di Nabire mencapai sekitar Rp50 miliar.
Anggaran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku makanan yang kemudian dibeli dari masyarakat dan pelaku usaha lokal, seperti petani, peternak telur, pedagang, hingga pelaku UMKM di Nabire.
“Anggaran tersebut berputar langsung di masyarakat, mulai dari petani, peternak telur, pedagang sampai UMKM yang menjadi pemasok kebutuhan bahan baku makanan,” jelasnya.
Meski demikian, Marsel mengakui ketersediaan bahan pangan lokal di pasar Nabire saat ini masih terbatas. Bahkan, pasokan yang tersedia dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan seluruh dapur MBG yang beroperasi.
Karena itu, ia mendorong para petani di Nabire untuk meningkatkan produksi, khususnya komoditas sayuran dan bahan pangan lainnya yang dibutuhkan dapur MBG.
Marsel juga menegaskan bahwa setiap Kepala SPPG didorong untuk menyerap dan memanfaatkan pangan lokal sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan bahan baku program MBG.
Menurutnya, keterlibatan petani, peternak, pedagang, UMKM, serta pelaku usaha lainnya di daerah diharapkan dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih luas.
“Jadi, kita ingin program ini berjalan dengan baik, transparan, dan memberikan manfaat yang luas. Bukan hanya dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga bagaimana potensi ekonomi masyarakat lokal dapat ikut bergerak,” pungkasnya.
